Negara yang tak pernah bisa berhemat, itulah Indonesia. Entah berapa juta liter per harinya BBM dikonsumsi demi dijadikan sampah udara yang berterbangan dan memerangkap panas. Kenapa ya negara ini tidak pernah bisa belajar ? ada apa ?
Mahasiswa ? siapa ? yang katanya “intelek” itu ? tapi apa yang dihasilkan ?.
Ingat mahasiswa turun ke jalan dengan sengatan matahari, pedihnya ga air mata, dan hempasan water canon hanya demi rakyat Indonesia
Sebentar lagi para kaum intelektual kembali siap menuntut hak-hak rakyat Indonesia yang telah betul-betul dirampas oleh para petinggi negara, maka dari itu jalanan akan kembali macet, aroma ban terbakar kembali menjadi simbol perlawanan
Apa ? apa yang perlu dibanggakan dari memacetkan jalan dan membakar ban ? Apa korelasi antara jalan yang macet dan ban yang terbakar dengan harga BBM ?. Kalaupun itu dibilang perlawanan terhadap kebijakan pemerintah, itu jelas SALAH !!
Pagar gedung DPR dirubuhkan, padahal ada uang rakyat didalam pagar tersebut. Mobil Polisi yang dibeli dengan uang rakyat pun terbakar. Mahasiswa saat ini memakai nafsu mereka, setan yang berkuasa dalam diri mereka berkecamuk.
Demo itu benar, tapi ricuh itu salah. Tak ada ubahnya mahasiswa-mahasiswa yang ricuh itu dengan koruptor, sama, persis malah !. Merugikan rakyat dan negara dengan memacetkan jalan. Banyak pekerja yang harusnya bekerja dengan produktif menjadi terhalang, negara kembali merugi.
Tolonglah wahai temanku sesama mahasiswa, demo lah dengan cara yang benar. Mahasiswa dikatakan intelek karena dianggap mampu memberdayakan otak dan pikirannya dengan baik. Gunakanlah otak, telusuri dengan baik setiap kebijakan pemerintah. Jangan asal demo sana demo sini.
BBM bukanlah barang yang bisa didapat lagi jika persediaannya didalam tanah habis. Marilah kawan, kita cari aksi yang lebih solutif daripada demo dan memacetkan jalan. Mari kita cari alternatif energi yang dapat diperbaharui, sehingga kita tidak lagi tergantung dengan yang namanya BBM.


