March 30, 2012 1

Gagal Move On : Part II

By in Publikasi

Negara yang tak pernah bisa berhemat, itulah Indonesia. Entah berapa juta liter per harinya BBM dikonsumsi demi dijadikan sampah udara yang berterbangan dan memerangkap panas. Kenapa ya negara ini tidak pernah bisa belajar ? ada apa ?

Mahasiswa ? siapa ? yang katanya “intelek” itu ? tapi apa yang dihasilkan ?.

Ingat mahasiswa turun ke jalan dengan sengatan matahari, pedihnya ga air mata, dan hempasan water canon hanya demi rakyat Indonesia

Sebentar lagi para kaum intelektual kembali siap menuntut hak-hak rakyat Indonesia yang telah betul-betul dirampas oleh para petinggi negara, maka dari itu jalanan akan kembali macet, aroma ban terbakar kembali menjadi simbol perlawanan

Apa ? apa yang perlu dibanggakan dari memacetkan jalan dan membakar ban ? Apa korelasi antara jalan yang macet dan ban yang terbakar dengan harga BBM ?. Kalaupun itu dibilang perlawanan terhadap kebijakan pemerintah, itu jelas SALAH !!

Pagar gedung DPR dirubuhkan, padahal ada uang rakyat didalam pagar tersebut. Mobil Polisi yang dibeli dengan uang rakyat pun terbakar. Mahasiswa saat ini memakai nafsu mereka, setan yang berkuasa dalam diri mereka berkecamuk.

Demo itu benar, tapi ricuh itu salah. Tak ada ubahnya mahasiswa-mahasiswa yang ricuh itu dengan koruptor, sama, persis malah !. Merugikan rakyat dan negara dengan memacetkan jalan. Banyak pekerja yang harusnya bekerja dengan produktif menjadi terhalang, negara kembali merugi.

Tolonglah wahai temanku sesama mahasiswa, demo lah dengan cara yang benar. Mahasiswa dikatakan intelek karena dianggap mampu memberdayakan otak dan pikirannya dengan baik. Gunakanlah otak, telusuri dengan baik setiap kebijakan pemerintah. Jangan asal demo sana demo sini.

BBM bukanlah barang yang bisa didapat lagi jika persediaannya didalam tanah habis. Marilah kawan, kita cari aksi yang lebih solutif daripada demo dan memacetkan jalan. Mari kita cari alternatif energi yang dapat diperbaharui, sehingga kita tidak lagi tergantung dengan yang namanya BBM.

Tags: , ,

March 23, 2012 0

Gagal Move On : Part I

By in Publikasi

Lho lha wong BBM naik kog pada bingung ? kenapa ?. Kalo ada istilah nomophobia untuk orang yang enggak bisa pisah dari handphone, harusnya juga ada istilah noBBMphobia. Dipastikan hampir semua orang di dunia ini kena phobia itu. BBM disini bukan aplikasi pengirim pesan punya ponsel pintar bernama “Beri Hitam” itu loh ya.

BBM Naik
Bahan Bakar Minyak, entah kenapa namanya kog seperti itu. Indonesia ini negara penghasil minyak yang cukup besar loh walaupun enggak sebesar negara-negara timur tengah seperti Arab dkk. Tapi kenapa kog mau ngasih minum ke kendaraan bermotor aja harus bingung dan kelimpungan ?. Kata orang sih minyak mentah kita diekspor ke luar negeri, tapi lucunya negara ini malah mengimpor minyak yang sudah dalam bentuk BBM alias sudah jadi dan siap pakai :) ).
Entah apa yang ada dibalik kebijakan itu, sebagai rakyat yang berada dibawah sih ya mau gimana lagi kalo ga nurut apa kata pemerintah. Terus kalo sudah seperti itu apakah harus terus pake BBM ? kalo istilah gaulnya sih rakyat kita masih belom bisa “Move On” dari BBM. Padahal alternativ lain mungkin saja banyak, seperti biodiesel, bioetanol, dsb yang (semoga) harganya lebih stabil.
Produksi dari bio-bio itu sendiri masih belom maksimal, ada sih di SPBU tapi jarang ada yang beli. Ya mungkin karena bahan bakar fosil lebih murah kali ya, padahal kan terbatas dan pasti bakalan habis. Anak-anak muda jaman sekarang kan dikit-dikit pake sepeda motor, mungkin dikiranya keren kali ya. Keren kalo di Indonesia, coba ke Belanda, banyakan sepeda daripada motor. Anak-anak mudanya juga lebih milih sepeda daripada motor, lebih safety, lebih murah, dan lebih nyantai. :) )

Tags: , ,

February 22, 2012 0

WYSIWYG

By in Publikasi
WYSIWYG

Photo Credit : serbaseru.com

What You See is What You Get prinsip printer yang masih dipegang teguh hingga saat ini. Selain hanya sebatas sebagai prinsip cetak printer, hal tersebut memang harus diimplementasikan dengan dunia nyata. Apa yang anda lihat merupakan kenyataan yang sedang terjadi saat ini. Kalo diceritakan, mungkin tidak akan selesai dalam 1 minggu.

Terlalu banyak hal-hal yang “aneh” terjadi di sekitar. Mulai dari orang yang entah kenapa tiba-tiba sirik kepada anda, mulai bingung dengan pikiran sendiri, dan lain sebagainya. Mungkin niat anda baik, ingin agar teman anda berada di jalan yang benar. Namun sesuatu yang benar acap kali disalah artikan. Yah, sehingga tidak menutup kemungkinan anda dicap buruk. Termasuk dikucilkan dan ditertawakan.

Namun, apa yang anda lakukan telah benar adanya. Usaha sudah terhitung dalam catatan Tuhan, anda akan mendapat ganjarannya suatu hari nanti. Sebenernya bukan sok ngurusin temen sih, bahkan ada yang bilang “negara ini kan negara demokratis, jadi ya biar aja orang mau ngomong apa”. Kalo dianalogikan, ada temen yang sedang berjalan dan tidak tau di depannya ada jurang, apakah kita biarkan saja masuk ke dalam jurang ?.

Niat baik memang harus dibarengi dengan keikhlasan dan kesabaran. Resiko orang baik adalah dicela dan dimaki, namun suatu hari nanti akan datang hari dimana orang yang berniat baik akan menerima balasan yang baik pula dan orang yang buruk akan mendapatkan balasan yang buruk juga. Sekian :)

Tags: ,